- - -
Saya ingat betul betapa kikuknya saya. Jauh sebelum ambisi ini menguat, saya pernah mendapat kebaikan dari seorang kawan, mencoba menyetir mobil pribadinya beberapa kali. Namun, pelajaran itu kini telah ditarik kembali oleh waktu. Sesi singkat kala itu tewas dalam jurang jeda yang terlampau lama —hampir dua tahun— meninggalkan ingatan saya yang benar-benar kosong. Di benak saya, pengetahuan tentang cara mengemudi telah mati.
Kekikukan itu terkonfirmasi lagi di awal tahun. Terperangkap dalam bilik simulasi di Timezone, tangan saya beku di kemudi palsu, tak berdaya di hadapan tuas persneling virtual yang asing. Di layar, mobil yang saya kemudikan hanya menjadi tontonan kehancuran: terpental, terpelanting, sebuah objek yang gagal saya taklukan. Setiap gerakan persneling yang saya coba, sepenuhnya kesalahan. Saat itu, pikiran untuk menguasai jalanan di dunia nyata terasa absurd.
Namun, siapa sangka, takdir punya selera humor yang gelap. Hanya dalam hitungan bulan, ketidakberdayaan di layar game itu menjelma menjadi kebutuhan yang harus ditundukkan. Kegelisahan menjalar, merobek ketenangan di setiap sudut pikiran. Ambisi untuk menuntaskan kemampuan mengemudi sebelum batas akhir usia dua puluh lima terasa seperti janji yang harus dibayar lunas.
Detik-detik akhir di penghujung 25.
Rupanya, kegelisahan ini tak ditakdirkan untuk saya telan sendirian. Tiba-tiba selubung ketidakberdayaan itu terkoyak ketika semesta mempertemukan dua jiwa yang tengah dilanda kegelisahan yang sama. Seorang sahabat, dengan gejolak pikiran serupa:
"Ingin menguasai jalanan!"
Obsesi itu menyatukan kami. Menjelang batas akhir usia dua puluh lima, kami berdua bergegas mencari tempat pelatihan mengemudi. Pencarian tersebut mengarah pada sebuah lokasi di Ciracas, yang kami nilai sebagai pilihan terbaik, dan kami setuju untuk melanjutkannya meskipun memerlukan waktu selama satu jam perjalanan.
. . .
Sejujurnya, saya sempat menduga bahwa menguasai kemudi akan menjadi tantangan yang besar. Mengingat permainan saya di Timezone; kala itu, saya hanya bisa menghasilkan kekacauan dan kekalahan, membuat saya yakin bahwa koordinasi tangan dan kaki adalah musuh bebuyutan saya. Namun, yang terjadi justru sebaliknya— saya menemukan bahwa proses belajar mengemudi di jalanan sesungguhnya mengalir dengan lebih alami dan intuitif dari yang disangka.
. . .
Detik-detik akhir 25.
Momen ketika SIM A yang baru dicetak itu mendarat di tangan, bukannya membawa ketenangan, justru memicu gempa yang lebih besar. Ada perasaan yang mengganjal, sebuah dorongan yang harus segera dipenuhi. Kartu plastik yang saya genggam justru menyulut api baru; mimpi remeh itu kini telah bermetamorfosis menjadi kebutuhan yang tak terelakan, sebuah dorongan yang harus segera dilanjutkan.
Mobil Pertama.
Mimpi itu begitu liar. Keinginan yang awalnya terkubur dalam-dalam di agenda masa depan, tiba-tiba menerobos linimasa dan menuntut realitas. Begitu jauh dari peta keuangan tahunan. Namun, keletihan orang tua di masa lalu terlalu lantang untuk diabaikan. Saya melihat lagi bayangan mereka, dua sosok sepuh yang hampir 60 tahun, dipaksa menempuh dua ratus kilometer diatas punggung motor menantang badai serta terik demi mudik. Pemandangan itulah yang menjadi sumbu ledak; bukan sekedar membeli, ini adalah penebusan martabat— janji untuk menutupi ketertatihan masa lalu dengan ketenangan di hari ini.
Maka, tanpa perencanaan yang rumit, percakapan ringan mengalir menjadi persetujuan cepat. Pencarian pun terjadi, seolah digerakkan oleh tangan tak terlihat. Berkat dukungan total dari keluarga, sanak saudara, dan restu dari montir terpercaya, proses itu terjadi begitu saja. Akhirnya, dengan segala kemudahan yang diberikan, saya resmi menyambut tunggangan pertama.
![]() |
| Dokumentasi saat pertama kali dibawa pulang kampung, tes parkir di halaman. |
![]() |
| Dokumentasi saat menantang jalan sempit yang kedua kalinya |
Tak hanya berhenti di sana. kobaran semangat itu menuntut pembuktian. Saya melemparkan diri pada batas keberanian. Mulai dari melaju di jalan tol, masuk ke jalan-jalan kampung yang sempit, berlatih di turunan dan tanjakan, hingga sebuah test drive yang cukup nekat: menaklukkan rute terjauh pertama sendirian.
![]() |
| Bogor - Bandung Pertama |
![]() |
| Dari bangku simulasi, kini menari diatas aspal Cileungsi. |
- - -
Setelah semua anugerah ini, babak baru telah terbuka. Tetapi jiwa manusia selalu mencari yang berikutnya. Setelah semua pengorbanan dan pencapaian, muncul pertanyaan menggelitik, berbisik lirih:
"Dengan segalanya yang sudah ada, mengapa rasanya ada yang kurang?"
Benar kata mereka, virus hasrat itu nyata adanya. Racun modifikasi yang tersebar di sosial media telah menemukan jalannya, merayap masuk ke dalam benak. Muncul suara-suara: "Hiasi ia. Ubah menjadi cerminanmu yang liar itu". Jemari ini terasa gatal, membayangkan setiap upgrade yang akan singgah menghiasi tunggangan baru ini menjadi sebuah deklarasi ego megah yang pantas dipuji.
Namun, jeda.
Biarlah hasrat itu menunggu. Lebih baik menyelami sensasi otentik ini: di mana jemari dan kaki telah menemukan irama yang senada, dan setiap tarikan napas yang menenangkan karena perpindahan persneling yang kini sudah berurutan.
Nikmati.
Jalan Pelan-pelan lagi.
![]() |
| Idul Adha 2025, Masjid At-Thohir Depok, ID |









Posting Komentar
0 Komentar
✍︎ dipersilakan berkomentar sebebas-bebasnya. anggap aja temen deket, tapi jangan minjem duit.