Waktu adalah penagih janji yang kejam. Detik-detik akhir di penghujung usia dua puluh lima terasa seperti belati dingin yang mendesak, memaksa satu ambisi remeh untuk segera diselesaikan. SIM A. Sebuah lisensi sepele bagi sebagian orang, namun bagi saya, ia adalah Gerbang Kebebasan yang sekian lama terkunci dilubuk hati. - - - Saya ingat betul betapa kikuknya saya. Jauh sebelum ambisi ini menguat, saya pernah mendapat kebaikan dari seorang kawan, mencoba menyetir mobil pribadinya beberapa kali. Namun, pelajaran itu kini telah ditarik kembali oleh waktu. Sesi singkat kala itu tewas dalam jurang jeda yang terlampau lama —hampir dua tahun— meninggalkan ingatan saya yang benar-benar kosong. Di benak saya, pengetahuan tentang cara mengemudi telah mati. Kekikukan itu terkonfirmasi lagi di awal tahun. Terperangkap dalam bilik simulasi di Timezone , tangan saya beku di kemudi palsu, tak berdaya di hadapan tuas persneling virtual yang asing. Di layar, mobil yang saya kemudikan hanya menjadi...
Jadi ceritanya, gue punya temen cewek yang minta dibantu untuk diantar ke Stasiun Senen Jakarta. Sebagai temen yang baik, gue, dengan segala keterbatasan yang gue rasakan setelah balik kerja semalaman dan harus kerja lagi malam itu, rela menyanggupi permintaannya. Tapi hari itu, cuaca yang biasanya cerah tiba-tiba berubah. Hujan deres mengaburkan harapan akan perjalanan yang lancar. Perkiraan jarak dari rumah dia ke stasiun butuh waktu sekitar 1 jam setengah kalo jalanan lancar. Tapi dengan hujan deres yang mengguyur, ditambah belum jelas apakah macet atau nggak, gue bener-bener nggak bisa perkirain berapa lama perjalanan bakal berlangsung. Yang bikin makin cemas, tiket keberangkatan dia jam 6.45 malam, padahal waktu itu udah jam 3 sore. Dan dia, masih belum kasih aba-aba untuk gue jemput. Karena ngerasa bertanggung jawab buat perjalanannya, jad...
Waktu SMP, aku memiliki dua sahabat yang luar biasa, tak ada orang yang seperti mereka. Kami bukan sekedar teman, kami adalah tiga sekawan yang penuh kegilaan yang tak pernah berhenti menciptakan momen-momen konyol untuk ditertawakan. Dalam petualangan kami, terjadi salah satu insiden yang pantas diabadikan sebagai kisah terburuk terbaik. Kisah ini berawal di dalam ruang lab komputer. Tempat yang biasanya dipenuhi ketenangan, dimana keheningan teratur melingkupi setiap sudut. Namun, pada satu hari yang tak terduga, suasana itu terguncang oleh tindakan seorang pemberani tak terkendali diantara kami. Dalam momen spontanitasnya, ia memutuskan untuk menghadirkan kekonyolan yang sama sekali berbeda dari biasanya, mengubah lab yang biasanya sunyi menjadi panggung yang tak terlupakan. Dengan gerakan berani, hari itu, ia memasuki wilayah yang tidak terjamah. Menggebrak keyboard dengan gerakan yang l...
Posting Komentar
0 Komentar
✍︎ dipersilakan berkomentar sebebas-bebasnya. anggap aja temen deket, tapi jangan minjem duit.